SHARE
bunga bangkai
bunga bangkai

 

Suargaloka itu bernama Indonesia. Ini bukan dongeng khayal. Wujud nyatanya menghampar di setiap tempat dari Sabang sampai Merauke. Tuhan barangkali menitahkan alam memahat negeri ini melalui dua cara: tumbukan lempeng bumi dan iklim tropis. Lantas membentanglah samudera biru, desir angin pesisir, gelora gunung api. Di angkasa, berpendar matahari tropis sepanjang masa. Bermula dari kesederhanaan musim, kering dan basah, tumbuhlah belantara yang semarak flora-fauna. Samudra, gunung, rimba raya. Tiga matra itu berdenyut murni di kawasan konservasi. Tak perawan benar memang. Namun pada ceruk terumbu, punggung gunung, dan pepohonan, hidupan liar masih bebas lepas. Di sela-sela tiga matra itu, peradaban manusia berkembang. Manusia dan alam saling meresapi, membentuk kebudayaan.

gambaran umum
gambaran umum

 

Segala rupa kehidupan itu terbentang di sekujur Nusantara, utamanya di 51 taman nasional. Sebagian besar kawasan ini tak mudah dijangkau, lantaran wilayah alami hanya tersisa di pedalaman, pucuk gunung dan kedalaman laut. Kawasan konservasi ditegakkan untuk kebanggaan bangsa, sekaligus menyajikan molek alam apa adanya. Di situ ada batas persinggungan: merawat sembari menuai manfaat. Itu juga berarti publik bisa berleha-leha pelesiran: menjajal nyali tualang, menyapa burung, bermain air, menghirup udara segar. Apapun jua untuk memurnikan kembali jiwa dan raga. Tapi dengan satu syarat mutlak: tidak menerabas sempadan pelestarian. Untuk merayakan keberlimpahan alam, sembari memundi batas itu, kami menerbitkan pustaka ini. Buku Pariwisata Alam Indonesia ini memaparkan taman nasional dan taman wisata alam dalam lima klaster: Sumatera, Jawa, Bali – Nusa Tenggara, Kalimantan – Sulawesi, dan Maluku – Papua.

Pustaka yang ada di tangan pembaca ini mengurai tamantaman nasional di klaster Sumatera: Gunung Leuser, Batang Gadis, Tesso Nilo, Siberut, Kerinci Seblat, Bukit Duabelas, Bukit Tigapuluh, Berbak, Sembilang, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas. Rimba raya taman-taman nasional itu tak tergantikan di tempat lain di muka bumi. Bersiaplah menembus teladas dalam bayang-bayang keremangan hutan. Jika Tuhan berkenan, pulau ini akan membawa kemujuran bersua Gajah, Badak, dan Orangutan di alam liar.

Ingin bertualang sembari menunggang Gajah Sumatera? Sambangilah kawasan ekowisata Tangkahan, Batang Serangan, Langkat, Sumatera Utara. Dikenal sebagai surga terpendam di Sumatera Utara, Tangkahan berada di dalam Taman Nasional Gunung Leuser.

Selain jelajah hutan, Gajah jinak bersama mahout (pelatih Gajah) secara teratur berpatroli di dalam kawasan taman nasional. Para pengunjung dapat berpatroli bersama Gajah itu, sembari menyusuri Tangkahan sampai ke Bukit Lawang. Keintiman juga terjalin dengan memandikan binatang berbelalai itu. Pengalaman itu baru sebagian kecil dari petualangan di Leuser. Jangan terlewatkan pula bunga Raflesia atjehensis bila sedang mekar di Tangkahan.

Kawasan Ekosistem Leuser ini mendapat julukan sebagai “Suaka Tropis Terbesar dan Terkaya di Dunia”.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii) telah memikat wisatawan dari belahan dunia. Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera ini berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang, Bahorok, Langkat. Mengamati Orangutan Sumatera merupakan suguhan di sela jelajah rimba raya di Bukit Lawang. Di Bukit Lawang, pengunjung dapat melihat dari dekat tingkah Orangutan semi-liar hasil rehabilitasi. Perjalanan menuju pusat pengamatan Orangutan akan menyusuri Sungai Bahorok dan rimba raya Leuser.

Keindahan panorama alam, hutan, sungai, dan satwa liar, itu memang teramat sayang dilewatkan. Hal unik lain adalah spesies baru bunga Rafflesia lawangensis. Tangkahan dan Bukit Lawang baru dua kawasan wisata di Taman Nasional Gunung Leuser dengan pamor wisata kelas dunia. Ekosistem Leuser yang bergelimang kekayaan hayati membuat kawasan konservasi ini dijuluki suaka tropis terbesar dan terkaya di muka bumi. Taman nasional ini menjadi rumah bagi Harimau Sumatera dan Badak Sumatera. Jejak keberadaan satwa tersebut dapat dijumpai di jalur pendakian menuju puncak Leuser yang berada di ketinggian 3.119 meter dpl. Di antara kelebatan hutan Leuser, hidup flora kha

TAMAN NASIONAL BATANG GADIS

Nama kawasan konservasi ini mencuplik sepokok sungai Batang Gadis yang membelah kawasan. Taman Nasional menjadi tempat mengungsi satwa liar dari wilayah sekitar yang kehilangan habitat karena pembukaan lahan dan kebakaran hutan. Keanekaragaman hayati Batang Gadis tercipta dari persilangan jenis-jenis satwa Relik Hutan Tropika Sumatera khas Sumatera bagian Selatan, Utara, dan Timur. Kawasan yang diselimuti hutan hujan tropika ini membentang di pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian antara 300 mdpl hingga 2.145 mdpl. Perbukitan memuncak di pucuk tertinggi Gunung Sorik Merapi.

Taman nasional di Mandailing Natal, Sumatera Utara, ini memendam keanekaragaman hayati: bunga Padma (Rafflesia arnoldi), Kantung semar (Nephentes sp), dan Meranti merah (Shorea sp). Di belantara Batang Gadis hidup Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis), Kucing emas (Catopuma temminckii), Tapir (Tapirus indicus), Kambing hutan (Capricornis sumatraensis), Rusa sambar (Cervus unicolor). Bahkan burung tohtor Carpococcyx radiceud yang menghilang seabad telah ditemukan kembali di Batang Gadis. Sembilan dari 10 jenis burung rangkong di Sumatera juga ditemukan di sini. Taman Nasional Batang Gadis memendam keindahan Gunung Sorik Merapi dengan kaldera yang besar. Relik alam tropika Sumatera di taman nasional juga dihiasi gua alam dan gua buatan zaman Jepang yang bernilai sejarah. Adat-istiadat dan budaya masyarakat desa yang tinggal di sekitar kawasan juga memikat untuk menambah pengetahuan tradisi Sumatera. Wisatawan yang berkunjung ke Desa Sibanggor bisa melihat rumah tradisional beratap ijuk dan mengamati kehidupan sehari-hari.

Taman Nasional Batang Gadis memendam keindahan Gunung Sorik Merapi dengan kaldera yang besar.

 

TAMAN NASIONAL TESSO NILO

Ada sensasi satwa tropis kala bertandang ke Taman Nasional Tesso Nilo, di Provinsi Riau. Di kawasan ini, pejalan mendapat kesempatan mengakrabi Gajah Sumatera, memberi makan, memandikan hingga menunggangi satwa yang terancam punah ini. Kawasan Tesso Nilo memang menjadi salah satu pusat konservasi habitat satwa tambun itu, dengan sekitar 150 ekor Gajah. Untuk mencapai Tesso Nilo, pengunjung harus melalui jalan darat dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau selama 5 jam, melalui jalan logging untuk mengangkut kayu tebangan. Pada mulanya kawasan ini merupakan areal pengusahaan hutan tanaman industri di dua kabupaten, Pelalawan dan Indragiri Hulu. Pada 2004, kawasan ini dijadikan taman nasional dengan areal 38 ribu hektare, yang lalu diperluas pada 2009. Kini wilayah taman menjadi 83 ribu hektare. Status kawasan konservasi memang tak terelakkan, mengingat Tesso Nilo bagaikan zamrud khatulistiwa dengan flora-fauna hutan hujan tropis dataran rendah Sumatera.

Tesso Nilo
Tesso Nilo

Tak perlu khawatir noda lumpur ketika Lebih Intim dengan Alam Sumatera menyusuri hutan, lantaran rute jelajah alam telah dilapisi paving block. Sepanjang tiga kilometer penjelajahan, mata pengunjung akan disuguhi pepohonan raksasa yang teduh.

Setiap hektare hutan taman nasional ini menyimpan 360 jenis flora, dari 165 marga dan 57 suku. Beberapa jenis flora dilindungi dan terancam punah: Kempas (Koompasia malaccensis), Jelutung (Dyeracostulata), Kayukulim (Scorodocorpusborneensis). Diatas pohon yang menjulang kerap bertengger sarang lebah liar (Apis dorsata). Serangga ini biasa membangun sarang pada pepohonan lebih dari 25 meter, yang biasanya terdapat 30 sampai 80 sarang lebah setiap pohon.

Masyarakat adat biasa menyebut pohonpohon bersarang lebah itu sebagai pohon sialang. Mereka memanjat pohon, dan memanen madu sehingga menjadi sumber pendapatan penting bagi masyarakat. Begitu penting pohon sialang bagi kehidupan, masyarakat lokal menyepakati hukum adat tentang larangan menebang pohon ini. Mereka yang menebang dianggap mematikan mata pencaharian orang lain, sehingga akan diganjar dengan denda besar.

peta Tesso Nilo
peta Tesso Nilo

Setiap hektare hutan taman nasional ini menyimpan 360 jenis flora, dari 165 marga dan 57 suku. Beberapa jenis flora dilindungi dan terancam punah: Kempas (Koompasia malaccensis), Jelutung (Dyeracostulata), Kayukulim (Scorodocorpus borneensis).

TAMAN NASIONAL SIBERUT

Menyelami Alam Purba Siberut

Taman nasional yang menyandang gelar Cagar Biosfer ini berada di Pulau Mentawai, Sumatera Barat, sekitar 155 km dari lepas pantai kota Padang. Enam puluh persen kawasannya diselimuti hutan primer Dipterocarpaceae, hutan primer campuran, rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove. Hutannya masih cukup perawan, dengan pohon-pohon besar yang menjulang 60 meter. Empat jenis primata endemik Mentawai berdiam di taman nasional: Bilou atau Siamang kecil (Hylobates klossii), Joja atau Lutung Mentawai (Presbytis potenziani siberut), Simakobu (Concolis concolor), Bokoi atau Beruk Mentawai (Macaca pagensis).

Siberut
Siberut

Siberut juga menawarkan petualangan jelajah hutan penuh lumpur. Penjelajahan hutan harus dilalui dengan bertelanjang kaki, melewati jalanan berlumpur. Pepohonan Dipterocarpaceae, aneka jenis anggrek,dan hidupan liar menjadi penawar lelah selama perjalanan. Air terjun Ulukubuk, yang dikeramatkan masyarakat lokal di Desa Madobak, menjadi ujung penjelajahan. Sembari menuju air terjun, para pecinta burung liar bisa mengamati avifauna di hutan-hutan atau sepanjang sungai. Pulau Saplap yang terletak di Saliguma menjadi tempat berkumpul dan bersarang burung-burung. Suku Mentawai yang tinggal di dalam dan sekitar taman nasional melakukan aktivitas sosialnya di uma, rumah panjang yang dihuni oleh beberapa keluarga satu keturunan. Suku ini menjaga budaya nenek moyangnya dan sebagian besar menganut animisme.

Menurut kepercayaan tradisional Mentawai Arat Sabulungan, benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai jiwa (simagre). Roh dapat keluar dari tubuh, dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuh tidak dipelihara, roh akan pergi dan bisa menyebabkan penyakit.

Kehidupan sehari-hari dipandang dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam. Untuk menjaga harmoni roh, masyarakat kesukuan ini menggelar upacara adat Punen, Puliaijat atau Lia. Upacara dipimpin oleh Sikerei yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa. Menyelami budaya dan kepercayaan masyarakat Mentawai akan memberikan pengalaman berbeda selama berkunjung ke taman nasional. Wisatawan dapat mengamati aktivitas kehidupan masyarakat: membuat sagu, berburu, membuat racun, membuat tato, membuat kabit (celana tradisional), memasak sagu, dan upacara adat.

Peta Siberut1
Peta Siberut1

Roh dapat keluar dari tubuh, dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuh tidak dipelihara, roh akan pergi dan bisa menyebabkan penyakit.

TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT

Pucuk Bumi Tanah Andalas

Kerinci Seblat
Kerinci Seblat

Berdiri tegak di Taman Nasional Kerinci Seblat, puncak Gunung Kerinci kerap berselimut kabut tebal. Kendati masih aktif dan berselimut kisah-kisah misteri, Kerinci memikat para pendaki untuk menggapai puncaknya. Pada puncak gunung menghampar ekosistem sub-alpin, dengan daratan berpasir dan bebatuan. Lebar puncak Kerinci yang tak lebih dari dua meter seakan menantang kesabaran, ketangkasan dan ketangguhan jiwa para pecinta alam. Lantaran berisiko tinggi, pendakian sepatutnya didampingi pemandu yang berpengalaman. Sebelum mencapai puncak, sambangilah danau Gunung Tujuh. Dari Kota Sungai Penuh, danau di atas Gunung Tujuh ini jaraknya sekitar 56 km. Selain keindahannya yang khas, Gunung Tujuh juga menyimpan misteri.

Hingga kini, masyarakat sekitar percaya bahwa danau pada gunung yang dulu bernama Gunung Sakti ini dijaga dua makhluk serupa manusia. Keduanya dikawal oleh hewan yang memiliki bentuk seperti harimau.

Kisah ini sejatinya memuat kearifan lokal perihal nilai penting kawasan Kerinci Seblat. Pesan turun-temurun itu menyiratkan kawasan konservasi ini tetap dijaga dan dirawat. Tentu saja, agar Kerinci Seblat tetap abadi sepanjang masa. Hakikatnya, Kerinci yang lestari akan menunjang peradaban di sekitarnya. Tak hanya danau Gunung Tujuh, danau Bontak pun sangat sayang untuk dilewatkan.

Peta Kerinci Seblat1
Peta Kerinci Seblat1

Keanekaragaman hayati yang tinggi menjadikan Taman Nasional Kerinci Seblat ditabalkan sebagai Situs Warisan Dunia. Raflesia arnoldi, Raflesia hasseltii dan pohon pinus khas Kerinci hanya sebagian kecil flora taman nasional ini.

Masyarakat sekitar percaya bahwa danau pada gunung yang dulu bernama Gunung Sakti ini dijaga dua makhluk serupa manusia. Keduanya dikawal oleh hewan yang memiliki bentuk seperti harimau.

TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS

Suaka bagi Manusia dan Alam

bukit dua belas
bukit dua belas

Membentang di tiga kabupaten: Sarolangun, Bungo Tebo dan Batanghari di Provinsi Jambi, Taman Nasional Bukit Duabelas menjadi suaka bagi suku Anak Dalam, lazim disebut Orang Rimba. Limpahan kekayaan alam taman nasional ini menjadi sumber penghidupan bagi salah satu suku minoritas yang masih bertahan menjaga adat budayanya. Dalam penuturan lokal, Orang Rimba berasal dari

Maalau Sesat, yang lari ke rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka disebut sebagai Moyang Segayo. Ada pula yang menyebutkan berasal dari Pagaruyung. Kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau seperti sistem Matrilineal memperkuat dugaan ini. Umumnya, Orang Dalam masih menganut kepercayaan animisme. Berada pada ketinggian 50-438 meter dpl dan sesuai namanya, Duabelas bukit menyusun lansekap taman nasional ini:

Bukit Bernyanyi, Panggang, Kuran, Teregang, Punai Banyak, Suban, Tiga Beradik, Benteng, Betempo, Penyeding, Beton, dan Enau. Formasi hutan hujan tropis masih dapat dijumpai di bagian utara taman nasional. Di bagian selatan, hutan yang tersisa adalah hutan sekunder. Belantara Bukit Duabelas menyediakan air berlimpah bagi warga Jambi. Aliran-aliran sungai yang menyatu dalam Daerah Aliran Sungai Batanghari berhulu di sini. Sejumlah air terjun, bersumber dari Sungai Batanghari: Aik Mantik, Desa Lubuk Jering, Talon, Meruap. Bahkan, terdapat sumber air panas Desa Baru. Taman nasional ini menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Jenis tumbuhan yang hidup di Bukit Duabelas: Ulin (Eusideroxylo zwageri), Meranti (Shorea sp), Kempas (Koompassia excelsa), Jelutung (Dyera costulata), Damar (Agathis sp). Beberapa satwa langka dan dilindungi bergantung kepada kelestarian Taman Nasional Bukit Duabelas sepertiHarimau Sumatera (Panthera trigis sumatrensis), Beruang madu (Helarctos malayanus), Kancil (Tragulus napu), Siamang (Hylobates syndactylus), Macan dahan (Neoelis nebulosa diardi), dan lain sebagainya.

Peta bukit dua belas1
Peta bukit dua belas1

Perpaduan hutan, sungai, satwa serta tumbuhan menjadi kombinasi alam Taman Nasional Bukit Duabelas yang menarik untuk dijelajahi. Goa dan batu-batuan bersejarah beserta kehidupan Orang Rimba menjadi pelengkap penjalahan alam.

TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH

Harmoni Adat dan Alam

bukit tiga puluh
bukit tiga puluh

Bukit Tigapuluh menghampar di kawasan perbukitan curam di tengahtengah dataran rendah Sumatera. Geografi kawasan ini memang terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang membentang di sepanjang sisi barat Sumatera.

Kala menjelajahi kawasan ini, tubuh akan diselimuti kelembaban tropis yang memeras keringat. Empat ekosistem membentuk bentang alam Bukit Tigapuluh: hutan alam perawan,hutan alam bekas tebangan, semak belukar dan kebun karet dan ladang. Kendati sebagian kawasan telah terjamah manusia, taman nasional ini masih menampilkan jejak-jejak hutan dataran rendah Sumatera. Pengamatan satwa dan panorama tersaji di Puputan Keling, atau air terjun yang menyegarkan di Tembelung Berasap. Jejak pertambangan ada di Camp Granit dengan jalur wisata sepanjang 8,6 km. Area Camp Granit cocok untuk berburu foto, pengamatan burung, pendakian, maupun sekadar bersantai menikmati alam.

Di kawasan konservasi ini hidup suku Talang Mamak dan komunitas Melayu di Dusun Lemang dan Siamang. Sementara di Dusun Datai, masyarakat Talang Mamak hidup bersama alam dan jarang berinteraksi dengan dunia luar. Turut menyelami kehidupan mereka akan menambah pengetahuan norma dan kebiasaan setempat.

Kehidupan masyarakat tradisional ini memperkaya pengalaman kala berkunjung ke Bukit Tigapuluh. Sembari menikmati alam, para tamu bisa mengenal adat istiadat masyarakat setempat. Pada waktu tertentu, suku Talang Mamak juga menggelar upacara adat.

Suku Talang Mamak mempercayai bukit dan tumbuhan Bukit Tigapuluh memiliki kekuatan magis dalam kehidupan. Adat, budaya, dan cara hidup mereka turut merawat dan menjaga kelestarian alam sekitar.

Peta bukit tiga puluh1
Peta bukit tiga puluh1

Masyarakat tradisional ini memanfaatkan bagian tertentu tumbuhan hutan sebagai obat. Sebuah ekspedisi menyimpulkan suku Talang Mamak memanfaatkan 110 jenis tumbuhan untuk mengobati 56 jenis penyakit dan mengenal 22 jenis cendawan obat.

TAMAN NASIONAL BERBAK

Menghayati Kawasan Tandon Karbon

berbak
berbak

Kawasan dengan hamparan hutan yang dibelah aliran sungai ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi Lahan Basah Internasional terluas di Asia Tenggara. Taman Nasional Berbak menyimpan kekayaan sumber daya alam yang memendam karbon terbesar di dunia. Bergelimang hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan sungai, Berbak akan memuaskan hasrat para petualang ilmiah untuk mengamati kehidupan alam liar denganberagam flora dan fauna. Alam kawasan lahan basah menjadi habitat satwa penguasa hutan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di tanah Sumatera. Lahan basah yang tergenang sepanjang tahun menyebabkan tanah asam dengan kandungan humusyangtinggi. Berbak melindungi proses alami jutaan tahun, yang terbentuk dari perombakan daundaun, kayu, dan perakaran yang membusuk. Di tengah tragedi kebakaran hutan Sumatera, Berbak menegaskan pentingnya perlindungan lahan gambut, hutan rawa dan sungai. Sirnanya tutupan hutan di lahan gambut telah membuktikan kawasan yang kaya karbon ini rentan terbakar. Alam Taman Nasional Berbak yang masih asri menyajikan liukan sungai yang membelah hutan, diselingi irama alam kicauan burung dan percikan air. Namun, harus tetap berhati-hati karena perahu bisa saja terbalik jika keseimbangan tidak terjaga dan beban berlebih.

Di tempat-tempat tertentu perahu dapat berhenti dan sandar di pospos pengamatan dan pengawasan yang dibangun ditepi sungai, untuk beristirahat. Aroma alami hutan Taman Nasional Berbak dapat dihirup sedalam-dalamnya, sembari menghangatkan badan saat matahari pagi menjelang.

peta berbak
peta berbak

Bergelimang hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan sungai, Berbak akan memuaskan hasrat para petualang ilmiah untuk mengamati kehidupan alam liar dengan beragam flora dan fauna.

TAMAN NASIONAL SEMBILANG

Pesisir timur Sumatera Selatan memendam perpaduan panorama bentan hutan rawa gambut dengan hutan rawa air tawar. Perpaduan di delta Banyuasin itu menciptakan hamparan lumpur, yang menjadi tempat hidup berbagai invertebrata seperti cacing, moluska, dan keluarga kepiting Hewan-hewan lahan basah itu menjadi santapan favorit bagi ribuan burung migran dari kawasan benua belahan utara di Siberia Utara dan Alaska. Para burung pengarung itu menjadikan kawasan di Taman Nasional Sembilang itu sebagai persinggahan untuk mencari makan, sebelum melanjutkan migrasi ke Australia yang suhunya lebih hangat.

sembilang
sembilang

Puncak migrasi pada Oktober setiap tahun itu menjadi atraksi wisata menarik. Kita dapat mendengar secara langsung suara gemuruh burung-burung migran yang terbang serentak, bersama gemuruh ombak Selat Bangka. Sedikitnya 28 jenis burung migran singgah di hamparan lumpur Taman Nasional Sembilang. Ada burung jangkung berparuh besar Bangau bluwok (Mycteria cinerea); burung perancah Trinil tutul (Pseudototanus guttifer); ada penjelajah angkasa pesisir Dara laut sayap putih (Chlidonias leucoptera) dan Dara laut jambul (Sterna bergii).

Lebih dari sepertiga kawasan taman nasional yang seluas 202 ribu hektare ini ditumbuhi hutan mangrove. Hutan pesisir ini meluas jauh sampai 35 km ke arah daratan, dengan 17 spesies atau 43 persen dari spesies mangrove Indonesia. Sementara di ekosistem gambut terdapat Kantung semar (Nepenthes ampullaria) yang menjadi spesies indikator untuk gambut dalam. Dengan kapal kayu, pengunjungdapat menembus rimbunnya hutan riparian, yang dicirikan dengan ragam alur rerumputan dan belukar di tepian sungai. Jika beruntung, penjelajah bisa menjumpai buaya, biawak serta labi-labi yang beristirahat di pinggiran sungai. Di bawah sungai hidup ikan Sembilang, yang juga dijadikan penyebutan nama kawasan ini.

peta sembilang
peta sembilang

Dunia mengakui peran penting ekosistem lahan basah Sembilang bagi kehidupan. Sejak 2011, Taman Nasional Sembilang terdaftar dalam Ramsar List sebagai wujud pengakuan dunia sebagai kawasan lahan basah yang penting.

TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN

Alam Selatan Bukit Barisan

 

bukit barisan selatan
bukit barisan selatan

Terletak di ujung selatan rangkaian pegunungan Bukit Barisan, kawasan konservasi ini menjadi rumah bagi spesies mamalia besar Sumatera. Di rimba raya taman nasional hidup Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Kehidupan mamalia besar itu dilengkapi fenomena vulkanik Pulau Sumatera yang terpendam di Sukamarga, Suoh, Lampung Barat. Di daratan yang cekung di Suoh itu, terhampar danau-danau vulkanik dan aktivitas panas bumi yang selalu mengepulkan asap putih.

Dahulu kala, di wilayah ini pernah berdiri kerajaan Bumi Hantatai, bagian kerajaan Skala Berak, Lampung Barat. Pada 1933, gempa bumi yang dibarengi letusan Gunung Suoh menghanguskan Bumi Hantatai. Masyarakatnya mengungsi. Namun letusan itu juga membawa berkah yang membentuk empat danau: Asam, Lebar, Minyak dan Belibis. Ada juga fenomena vulkanik di Keramikan karena permukaan danau yang pecah-pecah menyerupai hamparan kemarik.

Selain itu, air terjun Sepapa Kiri dan Sepapa Kanan di Kubu Perahu dapat menjadi pilihan untuk menyegarkan jiwa. Di kawasan ini dapat dinikmati pemandangan indah strata tajuk hutan hujan pegunungan yang masih asli, hawa sejuk dan segar. Tampang-Belimbing di ujung selatan taman nasional menjadi pilihan lain. Disini, formasi ekosistem hutan pantai hingga hutan dataran rendah relatif masih asli. Ini adalah habitat penting berbagai satwa liar langka seperti Rusa (Cervus unicolor), Kerbau liar (Bubalus bubalis) dan Mentok rimba (Cairina sp.). Sementara itu, pulau endapan di muara Way Sleman didominasi oleh jenis Nypa fruticans dan merupakan habitat bagi populasi Kalong yang jumlahnya ribuan ekor.

bukit barisan selatan
bukit barisan selatan

Menyusuri hutan sembari mengamati aneka tumbuhan yang hidup liar menjadi aktivitas yang menarik. di taman nasional ini Raflesia arnoldii, yang biasanya mekar di permukaan tanah, merekah dengan bertengger pada liana, di ketinggian 3 – 4 meter . Anggrek hitamnya pun sangat menawan. Bercak-bercak kecokelatan membaur dengan kuningnya mahkota sang bunga. Tanaman penghisap serangga, Kantung semar, dapat dijumpai dengan ragam jenisnya yang berbeda.

TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS

Tanah Harapan Badak Sumatera

 

way kambas
way kambas

Taman Nasional Way Kambas semakin dikenal dunia pada tahun 2012 setelah kelahiran Andatu. Anak Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatraensis),ini merupakan hasil penangkaran semi in-situ Suaka Rhino Sumatera Way Kambas. Artinya: Anugerah dari Tuhan sekaligus singkatan dari Andalas dan Ratu, si orang tua. Andalas, sang bapak, sengaja didatangkan dari Kebun Cincinnati, Amerika Serikat untuk membuahi sang ibu, Ratu. Jumlah Badak Sumatera kira-kira hanya 200 ekor, yang sebagian besar berada di alam liar. Sementara Badak Sumatera yang hidup di luar habitat alami hanya tersisa 10 ekor: empat di Taman Nasional Way Kambas, tiga di Sabah Malaysia, dan tiga ekor di Amerika Serikat. Selain Badak Sumatera, taman nasional yang berjarak 110 km dari Bandar Lampung, Propinsi Lampung, merupakan habitat bagi empat dari the Big Five Mammals yaitu Gajah Sumatera (Elephas maximus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Tapir (Tapirus indicus) dan beruang madu (Helarctos malayanus).

Way Kambas, ekosistemnya tersusun dari beberapa tipe yaitu hutan hujan dataran rendah, hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa dan hutan riparian. Pada hutan rawa, telah teridentifikasi lima jenis nephentes yaitu N.gracilis,N.mirabilis, N.rafflesiana, N.ampullaria dan N.hookeriana. Yang di sebut terakhir merupakan jenis hasil persilangan alami antara N.ampullaria dan N.rafflesiana. Masyarakat sekitar Way Kambas, penduduk aslinya sebagian besar berada di kecamatan Sukadana dan Way Jepara. Sedangkan penduduk pendatang dari Jawa dan Bali menyebar hampir di seluruh kecamatan yang ada di sekitar kawasan. Penduduk pendatang lainnya seperti suku Melayu, Bugis, Serang, dan Batak banyak bermukim di daerah pesisir. Keragaman budaya tersebut dapat dilihat saat pagelaran seni digelar: Reog Ponorogo di Desa Labuhan Ratru IX, Tari Lesung di Desa Labuhan Ratu VI serta Kesenian Tari Lampung di Sukadana dan Melinting.

peta way kambas
peta way kambas

Taman nasional dengan luas mencapai 2.350.000 hektare ini, pada 2004 mendapat pengakuan sebagai Asean Herritage Parks.

Loading...